Industri pertambangan, sebagai salah satu sektor vital, memiliki risiko tinggi yang menuntut penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ketat. Di balik operasional yang kompleks, tujuan utama setiap perusahaan adalah membangun budaya zero accident atau kecelakaan nihil. Konsep ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah komitmen mendalam yang melibatkan seluruh elemen perusahaan, mulai dari manajemen puncak hingga pekerja di lapangan. Menerapkan budaya ini adalah langkah proaktif yang akan melindungi aset terpenting industri: sumber daya manusia.
Langkah pertama dalam membangun budaya zero accident adalah komitmen dari manajemen. Pimpinan perusahaan harus menjadikan K3 sebagai prioritas utama, bukan hanya sebagai formalitas. Ini berarti mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk pelatihan, peralatan, dan prosedur keselamatan. Ketika pekerja melihat bahwa manajemen serius dalam hal keselamatan, mereka akan terdorong untuk mengikuti aturan. Pada hari Senin, 15 Juli 2026, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur mengadakan lokakarya. Seorang perwakilan dari salah satu perusahaan tambang batubara, Bapak Budi Santoso, menekankan bahwa di perusahaannya, setiap rapat pimpinan selalu diawali dengan laporan keselamatan, menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi mereka.
Selain komitmen manajemen, edukasi dan pelatihan yang berkelanjutan adalah fondasi yang tak tergantikan. Setiap pekerja, tanpa terkecuali, harus memahami potensi bahaya di lingkungan kerja dan tahu bagaimana cara bertindak dalam situasi darurat. Latihan simulasi rutin, seperti evakuasi darurat, dapat meningkatkan kesiapan dan respons pekerja. Pada hari Rabu, 20 Februari 2026, sebuah tim pemadam kebakaran dari Kepolisian Kabupaten Berau mengadakan simulasi penanganan kebakaran di area tambang. Acara ini dihadiri oleh para pekerja dan petugas keamanan, yang dilatih untuk menggunakan alat pemadam api ringan dan prosedur evakuasi.
Terakhir, membangun budaya zero accident juga melibatkan partisipasi aktif dari seluruh pekerja. Sistem pelaporan bahaya, di mana setiap pekerja didorong untuk melaporkan kondisi atau perilaku yang berpotensi menyebabkan kecelakaan tanpa rasa takut akan sanksi, adalah contoh partisipasi yang efektif. Insentif untuk tim atau individu yang berhasil menjaga rekor keselamatan juga dapat menjadi motivasi tambahan. Sebuah laporan dari Kementerian Ketenagakerjaan pada 10 November 2025, mencatat bahwa perusahaan pertambangan yang melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan terkait K3 memiliki tingkat kecelakaan yang lebih rendah. Dengan demikian, membangun budaya zero accident adalah sebuah upaya kolektif yang membutuhkan komitmen, edukasi, dan partisipasi dari semua pihak.