Prosedur Tambang Nusantara: Penanganan Tumpahan Oli di Area Workshop Site

Dalam operasional industri pertambangan, pemeliharaan unit alat berat merupakan aktivitas harian yang melibatkan penggunaan berbagai jenis pelumas dan cairan hidrolik. Risiko terjadinya kebocoran atau tumpahan bahan kimia di area kerja selalu ada dan memerlukan penanganan yang cepat serta sistematis untuk mencegah pencemaran lingkungan. Melalui penerapan prosedur Tambang Nusantara, setiap personil di lapangan wajib memahami langkah-langkah mitigasi guna meminimalisir dampak ekologis dan menjaga keselamatan kerja. Upaya perlindungan lingkungan ini sejalan dengan misi perusahaan untuk tetap menciptakan area kerja yang bersih meskipun berada di tengah aktivitas industri yang padat. Dengan manajemen penanganan tumpahan oli yang profesional, diharapkan setiap area workshop site tetap aman dari bahaya slip, kebakaran, maupun kerusakan ekosistem tanah di sekitar lokasi tambang.

Prosedur awal saat menemukan tumpahan oli adalah melakukan isolasi area workshop site agar ceceran tidak meluas, terutama menuju saluran drainase atau permukaan tanah terbuka. Personil yang bertugas harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai sebelum memulai proses pembersihan. Langkah “Containment” atau pembendungan dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti oil boom atau pasir silika untuk menyerap cairan secara instan. Tambang Nusantara sangat menekankan bahwa respons cepat di lima menit pertama akan menentukan seberapa besar biaya pemulihan lingkungan yang harus dikeluarkan nantinya.

Setelah tumpahan berhasil dibendung, tahap berikutnya adalah pengumpulan material penyerap yang telah terkontaminasi. Material tersebut tidak boleh dibuang secara sembarangan karena telah dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Pengelola workshop harus menyediakan wadah khusus yang tertutup dan berlabel jelas untuk menampung sisa serapan oli tersebut sebelum diangkut oleh pihak ketiga yang berizin. Prosedur ini memastikan bahwa tidak ada residu oli yang tertinggal di permukaan lantai workshop yang dapat membahayakan keselamatan pekerja akibat lantai yang licin.

Selain tindakan fisik, pendokumentasian dan pelaporan insiden tumpahan merupakan bagian integral dari sistem manajemen keselamatan pertambangan. Setiap kejadian tumpahan, sekecil apa pun volumenya, harus dicatat untuk dianalisis penyebab akarnya (root cause analysis). Apakah kebocoran terjadi karena kelalaian manusia, kerusakan selang hidrolik, atau prosedur pengisian yang salah. Dengan data laporan tersebut, Tambang Nusantara dapat melakukan perbaikan berkelanjutan pada sistem pemeliharaan preventif agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.